Monday, 22 March 2010
Malam itu terasa istimewa bagi Anne, "Aku ingin menulis..... " gumamnya pelan.
Entah mengapa keinginan itu sangat kuat menarik dirinya padahal entah sudah berapa tahun lamanya hampir saja Anne melupakan keahlian yang satu ini. Menulis, merangkai kata dan membuat kalimat-kalimat yang melukiskan apa yang sedang dialami dan dirasakannya tapi tak dapat dibaginya pada orang-orang yang ada disekelilingnya.
Anne kecil sudah pandai merangkai kata-kata singkat dan sederhana, Anne memulai rangkaian kata-kata sederhana tadi menjadi realitas yang tak terpisahkan dari sisi lain kehidupannya, suatu sisi yang sama sekali tidak dapat dia ungkapkan kepada siapapun walau itu adalah kakak atau adik kandungnya sendiri, juga tidak mampu diungkapkannya pada pasangan hidupnya. Anne menikahi seorang laki-laki yang pernah menjadi teman sepermainan di masa remajanya, Anne tidak pernah sama sekali bermimpi untuk menikah dengannya tetapi ternyata lelaki itu kemudian menjadi suaminya. Ya, suaminya yang pertama. Seseorang yang ternyata kemudian membawa banyak warna dalam hidup Anne.
Meskipun Anne sudah mencoba untuk mengungkapkan apa yang menjadi kerisauan hatinya, entah kepada beberapa orang sahabat terdekatnya atau kepada keluarga besarnya dengan bahasa hati yang dia harapkan untuk sekedar dimengerti tetapi Anne sendiri tetap tidak mengerti, karena Anne tetap saja merasa tidak yakin bahwa mereka akan memberikan jalan keluar yang dia butuhkan untuk permasalahan hidupnya.
Kenyamanan dan rasa aman untuk tetap menyimpan beberapa bagian dari perjalanan hidup Anne, membuatnya memilih untuk menutup mulut, bersikap seakan tidak pernah terjadi apapun yang penting dalam hidupnya apalagi karena dirinya pernah merasakan begitu terpuruk ke dalam suatu titik yang begitu hitam.
"Kejahatan apa yang tidak pernah aku lakukan di muka bumi ini?" Pertanyaan itu terlintas dalam benak Anne. Tangannya menulis merangkai kata tetapi pikirannya melayang menggali ingatannya tentang suatu kejadian yang tidak pernah akan dilupakannya. Tidak akan pernah.
"Aku pernah mabuk, pernah mencuri, pernah dan seringkali berbohong untuk keuntungan pribadi, dan yang terakhir ini, dosa yang membuatku terlempar lagi semakin jauh lagi dari jalanMU. Berzina.... , Ya Allah... Ampuni aku. " Rintih Anne dalam hati.
Airmatanya mengalir deras membasahi sajadah tempatnya bersujud. Tidak ada kata-kata yang keluar dari lisannya yang mengalirkan harapan akan ampunan dari Rabb-nya semata.
Dengan tertawa pahit, Anne mencoba membuka kembali ingatan perjalanan panjangnya yang hitam, daftar dosa yang telah dibuatnya dalam kisah hidupnya. Sekilas terbersit dalam pikirannya mencoba untuk sekedar menghibur agar Tuhan mengabulkan permohonannya meringankan perasaan bersalah yang sedang berkecamuk dalam hati. "Hmm..... Mungkin Pembunuhan, ya…. ‘Pembunuhan’ rasanya hanya kejahatan itu saja yang belum pernah aku lakukan, " Anne memejamkan matanya. Pikirannya berkelana.
Dari perkawinan campuran, Anne lahir dari rahim seorang wanita berdarah Jawa yang sangat setia dan hormat pada suami tempatnya mengabdi, Ayah Anne berasal dari salah satu suku di Pulau Sulawesi, seorang Perwira Menengah yang menganggap keluarga sebagai wadahnya menyalurkan hoby beladiri dan latihan disiplin ala tentara yang tidak pernah bisa Anne mengerti. Ada satu dari dua orang kakak kandungnya yang hampir memperkosa Anne ketika Anne masih berusia 10 tahun, terlalu belia untuk menyadari betapa menyakitkannya perlakuan saudara kandungnya sendiri. Kedua orang adik Anne sendiri tidak ada bedanya dengan apa yang dihadapi Anne dalam keluarga, kekerasan, kediktatoran, tidak ada kata-kata kecuali piring dan alat-alat rumah tangga yang hancur saat kakak atau adiknya bertengkar, atau rintihan dan airmata dari ibunda tercinta saat ayahnya tidak merasa nyaman dengan keadaan dan pelayanan di rumah. Kehangatan adalah barang yang terlalu mahal ketika itu, bahkan sampai menjelang masa puber dan dewasa, Anne sama sekali tidak pernah merasakannya.
Pengalaman hidupnya yang pahit sejak kecil membuat Anne berjuang menyelamatkan kisah hidupnya sendiri, tanpa bantuan dan arahan dari keluarga atau pun orang-orang yang sedarah dengannya. Anne berusaha untuk mandiri, di usianya yang ke19 tahun Anne mulai merasakan kecantikan yang diwariskan ibunya dan daya tarik dari intelektual warisan ayahnya bisa membuatnya bertahan dari himpitan tekanan emosinya selama ini. Tidak terhitung lagi laki-laki yang jatuh akibat tebaran senyumnya, uluran percintaan semu yang ditawarkannya. Anne hanya memikirkan bagaimana dia bisa bertahan hidup, membalaskan semua rasa yang dia rasa. Dia ingin meluapkan semuanya, dan berharap bisa keluar dari beban hidupnya.
Di usia belia, atas desakan ibundanya yang begitu kuatir dengan sepak terjangnya Anne terpaksa harus menikahi lelaki yang sama sekali tidak dia cintai tetapi justru sangat mencintai dirinya. Pernikahan semu itu kemudian tetap dijalani Anne sekedar untuk mempertahankan egonya sendiri karena baginya ini adalah pilihan hidupnya, tapi Anne menyerah.......saat lelaki itu, Supardi suaminya juga ikut mengkhianatinya, berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri.
Rasa marah dan putus asa benar-benar mengalir dalam setiap aliran darah di tubuhnya, tapi Anne tidak kuasa untuk meluapkannya ke alam nyata.
Rumah tangga Anne yang jauh dari kata bahagia membuatnya terperosok ke dalam daftar kejahatan baru, perselingkuhan. Anne melakukannya. Ketika dirinya tengah kehilangan semangat dan akal sehat. Frustrasi akibat keadaan keluarga besarnya, kehangatan yang sama sekali tidak pernah dirasakannya, membuat diri Anne mudah tertipu oleh rayuan laki-laki hidung belang yang telah berkeluarga dan mempunyai anak. Waktu itu Anne hanya berpikir jika cinta yang ditawarkan George, mampu menyelamatkan kehidupannya yang tengah terombang-ambing tanpa arah, roda kehidupan yang tidak bersahabat dan kehancuran yang tengah dirasakan dalam biduk rumah tangganya. Anne sangat tergila-gila kepada semua perhatian George yang dirasa menyentuh hatinya. Di tengah kegersangan jiwa Anne, hadiah-hadiah istimewa dari George terasa manis menjerat, lagu-lagu romantis ikut mengaduk-aduk perjalanan asmara haram Anne - George, semua terasa begitu indah bagi mereka.
Kegilaan Anne bertambah, mungkin karena hatinya telah keras dan hitam penuh dengan dosa-dosa, hingga tak terpikirkan lagi bagaimana rasanya hidup di dunia ini untuk berbagi dengan manusia lainnya. Anne terjebak di dalam permainannya sendiri hingga membawanya kepada satu keputusan gila untuk bisa menjadi istri dari George, walau harus menghalalkan berbagai cara, walau harus juga menyakiti hati wanita lain yang masih tercatat sebagai istri sahnya dan mengabaikan keberadaan bahkan meninggalkan suami Anne sendiri.
Dosa-dosanya kemudian bertumpuk lebih banyak lagi. Anne terpuruk putus asa dan hampir memutus aliran urat nadi di pergelangan tangannya. Anne sudah kehilangan akal sehat ketika George memutuskan untuk meninggalkan Anne dan kembali kepada keluarga kecilnya. Perselingkuhannya dengan George telah tercium oleh istrinya dan membuat perempuan itu meradang, mengancam untuk membawa anak-anak George pergi meninggalkan ayahnya. Kenyataan ini mengubah dan mencampakkan semua janji pertanggungjawaban yang telah diucapkan George pada Anne, itu juga tidak sebanding dengan semua makian lewat telp dan sms, juga ancaman dari yang halus sampai dengan kata-kata yang menyakitkan yang harus diterima Anne dari istri George.
Di sebuah lahan parkir pertokoan dan resto terkenal di salah satu sudut kota, Anne mengancam akan membuat George menyesal karena lebih memilih untuk mengakhiri hubungan dengannya dan kembali kepada istri dan keluarganya.
“Lebih baik aku mati Mas…… aku tidak kuat bila harus berpisah denganmu” kata – kata itu mengalir begitu saja dari bibir Anne ketika itu. George hanya mampu menatapnya tidak berdaya.
Tanpa disadari George, tangan Anne bergerak cepat mengambil bilah kecil pisau cutter yang telah dipersiapkan sebelumnya dari saku celana jeans yang ketat membalut tubuhnya. Anne memejamkan matanya, membuat air matanya mengalir lebih deras lagi jatuh menetes di pipinya yang tersaput kosmetik hadiah ulang tahunnya yang ke 28 dari George. Kata-kata manis penuh cinta George ketika itu melekat erat dalam benaknya. "Mas mencintaimu... sampai maut memisahkan kita. "
Untunglah, kejadian di tempat parkir itu tidak ditakdirkan untuk mengambil nyawa Anne, satu-satunya milik Anne yang paling berharga karena dia masih bertahan walau fisik dan batinnya telah terluka sedemikian parah oleh sakit hati. Kehilangan hampir 8kg dari berat normal badan Anne tidak dapat ditutupi dengan tebalnya make up dan polesan lipstick di bibirnya. Perubahan fisik Anne yang sangat mencolok itu menyebabkan sorotan curiga dari wanita tua yang telah melahirkannya. Ibunda Anne.
“Anne, jika ada laki-laki yang menggoda kamu padahal dia itu tahu kalau kamu sudah bersuami, jangan kamu layani dia, nak. Dengar ibu.. Anne, laki-laki itu pasti lah bukan laki-laki yang baik apalagi sholeh, tetapi ibu yakin nak... dia itu adalah seekor ular yang akan mematuk kamu, membuat dirimu keracunan bisa cintanya nak, dan waktu kamu sekarat, percayalah pada kata-kata Ibu ini..Anne, dia akan berlalu pergi begitu saja meninggalkanmu. Mencampakkanmu pada saat kamu sakit tak berdaya. “
Ibu menatap Anne dengan penuh kasih sayang ketika mengucapkan kata-kata itu, pantulan kekuatiran jelas terpahat dalam bening mata tuanya padahal tidak sepatah pun Anne pernah menyampaikan keresahan hati tentang rumah tangganya yang sedang di ujung tanduk. Kehangatan terjalin antara Anne dan ibunya setelah Ayah Anne meninggal dunia akibat infeksi pencernaan.
Firasat alami dari seorang Ibu yang sudah terasah selama puluhan tahun dalam menghadapi anak-anaknya telah membuatnya mampu melihat dengan mata hati bahwa Anne Mediana - anak perempuan kecilnya yang nakal ini kembali menghadapi godaan laki-laki di tengah badai rumah tangga, Ibu sudah mencoba mengingatkan Anne akan getir dan bahaya bermain api asmara. Saat itu Anne hanya tertawa dan mencoba menutupi semuanya.
Firasat alami dari seorang Ibu yang sudah terasah selama puluhan tahun dalam menghadapi anak-anaknya telah membuatnya mampu melihat dengan mata hati bahwa Anne Mediana - anak perempuan kecilnya yang nakal ini kembali menghadapi godaan laki-laki di tengah badai rumah tangga, Ibu sudah mencoba mengingatkan Anne akan getir dan bahaya bermain api asmara. Saat itu Anne hanya tertawa dan mencoba menutupi semuanya.
“Ngomong apa sih Bu? Laki-laki siapa yang Ibu maksud… ga ada laki-laki.. Lagi pula memang kenapa sih? Kok tiba-tiba jadi ngomong kayak gitu? Aneh Ibu nih… “
Anne berlalu cepat meninggalkan Ibu, berharap dalam hatinya semoga Ibu tidak membaca lebih jauh lagi tentang keadaan yang sedang dihadapinya, tetapi teriakan Ibu dari mesin jahit tempatnya meluangkan waktu senggang semakin membuat Anne yakin kalau wanita tua ini sudah mencium ketidakharmonisan rumah tangga bahkan perselingkuhan haramnya.
“Pokoknya Ann…. Jangan diladeni. Percaya deh, lelaki yang kayak gitu cuma cari senang-senangnya saja. “ Ibu setengah berteriak menyampaikan kata-kata itu.
Dan, firasat Ibu Anne menjadi kenyataan. Anne memang tertipu "bisa cinta " George, lelaki yang dipercayainya setengah mati akan bisa memberinya kebahagiaan. Rumah tangganya hancur berantakan, perceraian Anne dan suaminya tak dapat dihindarkan lagi. Dengan alasan ketidakcocokan,
Anne berusaha mengelak dari konflik yang sebenarnya tengah terjadi antara dirinya dan suaminya, Anne mencoba menutupi aibnya sendiri meski dia juga teramat yakin jika suaminya atau bahkan Ibunya telah mengerti kenapa Anne tetap bersikeras dengan keinginannya untuk tetap bercerai.
Permohonan cerainya kemudian diterima Pengadilan Agama walau kala itu Anne tersedak seperti kehilangan paru-paru untuk bernafas karena Ibunya tetap saja tidak dapat menerima kenyataan bahwa anak perempuan kecilnya ini telah bercerai dengan laki-laki yang telah hampir satu dasawarsa menjadi menantu yang baik di mata tuanya. Airmata Anne mengalir, tulus…. Anne bersedih karena dia merasa tidak dapat membahagiakan Ibu yang telah tua renta bahkan harus melukai perasaannya. "Sungguh Ibu, maafkan aku……" rintih Anne dalam hati saja.
Lelehan air mata ternyata tidak cukup untuk menghibur luka hati ibu Anne, Wanita sederhana yang begitu hormat dan berbakti kepada suaminya, ayah Anne. Kekecewaan Ibu atas keputusan Anne sangat terasa lewat tatapan dan gerak tubuhnya. Pada hari-hari setelah perceraian itu terjadi, tidak henti-hentinya Ibu menyudutkan Anne dengan berjuta-juta perasaan bersalah. Ketidakrelaan Ibu membuat Anne sakit, sakit raga dan juga sakitnya hati Anne yang porak poranda karena ternyata lelaki yang diperjuangkannya selama ini, hanyalah Pengecut perayu ulung. George telah meninggalkan Anne terhempas dalam kenyataan pahit padahal telah Anne telah mengorbankan rumah tangganya sendiri.
Anne memang bukan istri yang baik buat Supardi, Anne tidak pernah mencintainya dengan tulus, juga tidak pernah melayaninya dengan kepatutan sebagaimana layaknya seorang istri. Tapi cinta Supardi tidak cukup membuat Anne mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka, ketidakhadiran anak ikut memperkeruh hubungan suami istri antara Anne dan Supardi. Kekecewaan atas sikap Supardi, suaminya yang tidak perduli akan pentingnya keturunan membuat Anne membenarkan perselingkuhannya dengan George, apalagi kemudian Supardi lebih memilih sibuk tenggalam dalam klub motor dan semua touring luar kota. Anne merasa terpinggirkan.
Kepahitan demi kepahitan dari hidup yang dijalaninya, menyentil Anne pada suatu kesadaran. "Aku butuh Tuhan..... Aku butuh DIA"
Anne menjeritkan kepedihan hatinya, "Aku adalah hamba yang telah lama meninggalkanMU....Tuhan, Aku kotor.... "
Anne menjerit dalam keputusasaan hidup. Terdampar dalam jurang nestapa yang sangat dalam.
Kecerobohannya dalam memilih seseorang untuk bertukar cerita dan berbagi tentang nestapa hati malah menjerat Anne dengan cinta palsu penuh nafsu dari seorang laki-laki yang telah terikat ikrar suci dengan wanita lain. "Tuhan…, kenapa aku memilih George? kenapa bukan dengan menulis?? Bukankah dengan menulis, aku bisa mengatakan apa saja yang aku rasakan, apapun yang ingin kuraih, semua yang terjadi bisa kutuliskan tanpa harus kutoreh lembar hitam dalam sejarah hidupku dengan perselingkuhan yang memalukan, tanpa harus kulukai istrinya, tanpa harus kusakiti hati Ibuku....."
Anne menangis.
Anne jatuh…. sakit, sangat sakit. Bahkan sakitnya hatinya telah membuat fisiknya tidak kuat menerima beban, penyakit baru telah Tuhan hadiahkan buat dosa-dosa Anne. Sesuatu telah tumbuh subur di rahimnya, Jaringan kanker dari gumpalan daging yang tidak pernah Anne harapkan hadir sebagai balasan atas kesombongannya di muka bumi ini melupakan kebesaranNYA. Dokter sudah menyerahkan keputusan hidup dan matinya di atas tangan Anne sendiri. Kesempatan untuk mendapatkan anak dari rahimnya sendiri pupus sudah.
Sekali lagi Anne menjerit, putus asa atas kenyataan. Anne benar-benar merasa seorang diri, merasa dirinya sudah mati suri. "Tuhan……………, Ampuni aku." Itu jeritan pertaman diriya atas teguran Tuhan.
Penyakitnya ini telah membawa dirinya untuk kembali menapaki jalan Ilahi. Anne mencoba merangkak menggapai Rahmat dan PengampunanNya. Tertatih Anne melafalkan kembali doa-doa yang biasa dipanjatkan ketika dirinya belum bersentuhan dengan gemerlapnya dunia. Perlahan disebutnya kembali nama-namaNya dan kumpulan ayat-ayat suci yang telah usang menghuni sudut kamar mewahnya. Ketika itu Anne merasa sudah mati bahkan ketika kematian belum menjemput dirinya. Ketakutannya akan neraka dan siksaNya menghantui hari-hari Anne menjelang operasi pengangkatan rahimnya.
Anne menangis sejadi-jadinya….. dia juga sudah merasa malu jika harus berhadapan lagi dengan Ibu. Anne menyimpan rencana operasi ini serapat-rapatnya dari perempuan yang telah melahirkannya ke dunia. Anne tidak ingin Ibu ikut repot mengurusnya, melayaninya lagi padahal selama ini dirinya tidak pernah mengindahkan peringatan dan nasehat tulus ibunya. Anne hanya ingin merasakan hukuman ini sendiri.
"Jika masih ada hari esok setelah pisau bedah operasi menyayat perutku, aku ingin kembali menjadi perempuan kecil Ibuku yang bisa dibanggakan. Aku akan menutup auratku. Aku ingin hadir di majelis-majelis ilmu yang mengajarkan banyak hal dari kebesaranMU, dan yang terpenting aku akan menulis lagi. Menulis apapun dari perjalanan hidupku, biar kusadari lagi betapa indah hidup yang telah kau titipkan padaku ini Ya Rabbi... "
Anne menyempatkan diri menulis di atas buku diary yang disimpannya dalam laci. Sebentar lagi perawat akan datang untuk mengantarkan tubuhnya yang ringkih menuju ruang operasi.
“Please ya Rabb…, Berikan aku kesempatan kedua untuk hidupku yang baru. Amien…. “ Anne berbisik lemah.
No comments:
Post a Comment