Saturday, April 24, 2010
Ghazwul Fikri ala Zionis
Arti Zionis
Menurut Wikipedia, Zionisme adalah sebuah gerakan politik kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi ke Zion, bukit di mana kota Yerusalem berdiri. Gerakan yang muncul di abad ke-19 ini semula ingin mendirikan sebuah negara Yahudi di Afrika kemudian berubah di tanah Palestina yang kala itu dikuasai Kekaisaran Ottoman (Khalifah Ustmaniah) Turki.
Zionisme merupakan gerakan Yahudi Internasional. Istilah zionis pertama kali dipakai oleh perintis kebudayaan Yahudi, Mathias Acher (1864-1937), dan gerakan ini diorganisasi oleh beberapa tokoh Yahudi antara lain Dr. Theodor Herzl dan Dr. Chaim Weizmann. Dr. Theodor Herzl menyusun doktrin Zionisme sejak 1882 yang kemudian disistematisasikan dalam bukunya "Der Judenstaat" (Negara Yahudi) (1896). Doktrin ini dikonkritkan melalui Kongres Zionis Sedunia pertama di Basel, Swiss, tahun 1897. Setelah berdirinya negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, maka tujuan kaum zionis berubah menjadi pembela negara baru ini.
Rapat Dewan Umum PBB mengeluarkan Resolusi 3379 tanggal 10 Desember 1975, yang menyamakan Zionisme dengan diskriminasi rasial. Akan tetapi pada 16 Desember 1991, resolusi tersebut dicabut kembali.
Asal muasal Zionis dan alasannya
(Taryudi, dalam “Menguak Esensi Zionisme “ ) Yahudi adalah orang Palestina yang terdampar di Benua Eropa. Ini adalah hasil dari pemikiran dari aliran Protestan, yaitu aliran baru yang mekar dalam agama Kristen. Sebuah gerakan pembaharu yang mengusung "reformasi agama" berlandaskan pemikiran Ibrani-Yahudi yang secara spesifik membumikan "Perjanjian Baru"/Taurat; meyakini bahwa bangsa Yahudi akan dikumpulkan kembali di bumi suci Palestina untuk menyongsong kedatangan "Al-Masih Al-Muntazhar", yang berarti bermulanya masa tenteram yang —menurut mereka— akan berlangsung selama 1000 tahun.
Seiring perjalanan waktu konseptual Protestan mulai mengalami perkembangan — dengan mengemukannya persepsi baru bahwa aliran pembaharu tersebut merupakan titah Tuhan yang harus dipedomani. Hasilnya, Taurat akhirnya tersebar luas, diterjemahkan ke pelbagai bahasa Eropa. Melalui mekanisme ini perlahan orang-orang Eropa berasumsi bahwa bumi Palestina merupakan negeri asal bagi bangsa "Yahudi Terpilih", sehingga asumsi tersebut mengkristal pada satu kesimpulan, Yahudi adalah orang Palestina yang terdampar di Benua Eropa.
Tidak lagi ada pemisah antara Yahudi dengan Kristen melalui munculnya aliran Protestan. Mereka tak ubahnya seperti satu tubuh. Perasaan inilah yang menjembatani persetujuan Balfour (1917), yang bila kita cermati saat itu yang menjadi raja Inggris adalah George V, dan Gubernur Jendral di Palestina. Inilah yang disebut dengan Difusi Zionis non Yahudi.
Holocoust merupakan peristiwa yang terjadi pada masa pemerintah Nazi di Jerman pada rentang waktu 30 Januari 1933 hingga 8 Mei 1945. Holocoust berasal dari bahasa yunani kuno yang artinya pengorbanan yang seluruh nya di bakar di altar. Saat ini holocoust digunakan sebagai ungkapan penghalus untuk pembunuhan massal ; genocide (pemusnahan ras) terhadap bangsa lain di sepanjang sejarah. Peristiwa holocoust merupakan salah satu pemicu terjadinya perang dunia II. Awal-awal pembantaian Yahudi, objek dari holocoust adalah bangsa Yahudi. Saat itu bangsa Yahudi menganggap bahwa bangsa mereka sebagai bangsa "pilihan" dan bangsa yang rasnya paling tinggi diantara ras bangsa lain. Hal ini kemudian ditentang oleh Hitler yang segera mengorganisir gerakan untuk melenyapkan bangsa Yahudi di Jerman dan di Eropa. Pada tahun 1935, Hitler mulai mencabut kewarganegaraan para masyarakat Yahudi. Tahun 1939 orang-orang Yahudi mulai dibantai dan pada tahun inilah perang dunia terpicu. Namun, dalam kenyataannya sekarang ini, banyak kalangan yang mempertanyakan kebenaran akan terjadi Holocoust untuk kaum Yahudi ketika itu termasuk presiden Ahmadinejad (Iran) karena banyak hal-hal yang janggal dan tidak umum dalam resensi kejadian yang dimaksud. Pemikiran ini sebagai landasan bahwa ini hanya konspirasi kaum yahudi untuk membenarkan langkah-langkah mereka mendirikan Negara baru di bumi Palestina yang sah.
Bagaimana dengan Zionis di Indonesia?
(Ridwan Saidi, dalam “Jejak Sejarah Yahudi di Indonesia – ISNET homepage)
SEJAK gerakan zionis internasional Freemasonry didirikan di Inggris tahun 1717, orang Yahudi lebih suka menyelubungi aktivitas mereka dengan selimut perkumpulan teosofi yang bertujuan "kemanusiaan". Pengumpulan dana dipusatkan di New York. Sejak 17 November 1875, pimpinannya adalah seorang Yahudi di Rusia, Nyonya Blavatsky. Jurnal The Theosofist, yang diterbitkan di New York, pada terbitan tahun 1881 menyiarkan kabar bahwa Blavatsky mengutus Baron van Tengnagel untuk mendirikan loge, rumah ibadat kaum Vrijmetselarij/Freemasonry di Pekalongan. Kota ini dipilih karena sejak 1868 berubah status dari desa menjadi kota, di samping dikenal sebagai konsentrasi santri di Jawa Tengah. Loge didirikan tahun 1883, tetapi tidak berkembang karena reaksi keras masyarakat berhubung praktek ritualisme mereka, yaitu memanggil arwah. Karena itu, penduduk menyebut loge sebagai gedong setan.
Pengalaman Pekalongan memaksa mereka mengalihkan kegiatan ke Batavia. Dua loge besar didirikan di Jalan Merdeka Barat (sebelumnya bernama Blavatsky Straat), dan Jalan Budi Utomo (sebelumnya bernama Vrijmetselarijweg). Dua loge itu, di samping loge yang didirikan di Makassar, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, menjadi pusat kegiatan ritual saja, untuk Yahudi Belanda dan Eropa, yang bekerja di Hindia Belanda di sektor birokrasi VOC/Pemerintah Hindia Belanda, dan swasta.
Hindia Belanda dianggap negeri yang aman sebagai wilayah operasi mereka, karena penduduk menganggap Yahudi Belanda/Eropa sebagai orang Nasrani. Di samping itu, Gubernur Hindia Belanda selalu menjadi pembina Rotary Club.
Aktivitas ritual belaka berujung pada kebuntuan: gerakan zionis jalan di tempat. Maka, gerakan zionisme intenasional untuk Asia, yang berpusat di Adyar, India, pada 31 Mei 1909 mengutus Ir. A.J.E. van Bloomenstein ke Jawa. Untuk mengubah pola pergerakan, pada 12 November 1912 Bloomenstein berhasil mendirikan Theosofische Vereeniging (TV), yang kemudian mendapatkan rechtpersoon, pengakuan, dan dimuat dalam Staatblaad No. 543.
TV bekerja di kalangan intelektual dan calon intelektual bumiputra. TV pun membiayai Kongres Pemuda I, 1926. Kongres itu bahkan digelar di loge Broederkaten di Vrijmetselarijweg. Akibatnya, ormas pemuda memboikot kongres itu, dan reaksinya adalah, pada 27 dan 28 Oktober 1928 ormas pemuda menggelar Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda.
Aktivitas zionis yang kian meningkat di Hindia Belanda tidak saja di kalangan masyarakat, melainkan juga di pemerintahan, menjelang dan pasca-Perang Dunia I itu, menggelisahkan orang-orang Jerman. Terutama peran Snouk Hurgronje, Belanda Yahudi, dalam Perang Aceh. Seperti diketahui, Turki sebagai sekutu Jerman gagal membantu Aceh karena panjangnya garis supply. Kehadiran agen zionis internasional Sneevliet di Jawa, yang berhasil mengkader pemuda intelektual Indonesia, makin menguatkan tekad Jerman untuk meruntuhkan pemerintah zionis Hindia Belanda.
Di bidang bisnis, orang Yahudi di Jakarta menguasai pusat bisnis elite di Pasar Baru, Jalan Juanda, dan Jalan Majapahit. Mereka menguasai perdagangan permata, jam tangan, dan kacamata. Pusat hiburan elite di Jakarta juga diramaikan oleh pemusik Yahudi Polandia. Akhirnya, Batavia menjadi salah satu kota zionis yang terpenting di Asia.
Usaha menghidupkan lagi gerakan zionisme masih dilakukan pascakemerdekaan. Pada 14 Juni 1954, berdiri Jewish Community in Indonesia, dipimpin Ketua F. Dias Santilhano dan Panitera I. Khazam. Di dalam anggaran dasarnya dinyatakan, perkumpulan itu merupakan kelanjutan dari Vereeniging Voor Joodsche Belangen in Nerderlandsch-Indie te Batavia, yang berdiri pada 16 Juli 1927.
Tidak jelas, apakah perkumpulan itu di masa reformasi kini masih eksis atau tidak. Namun, pembicaraan yang menyeruak akhir-akhir ini, tentang operasi zionis internasional di Indonesia, kiranya mempunyai dasar yang kuat. Baik ditilik dari sejarah kita maupun data muktahir, seperti kesaksian mantan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro, yang termuat dalam memoarnya yang ditulis oleh Ramadhan KH. Di situ antara lain dikatakan, "Saya sendiri tidak pernah punya hubungan dengan Israel, paling-paling, saya ingat, saya pernah datang ke Jalan Tosari memenuhi undangan mata rantai Israel yang ada di Jakarta."
Gerakan Zionis di Indonesia
Di dunia maya. Salah satunya, mereka (zionis) membuat situs www. Libforall. Com yang awalnya (2003) hanya berbahasa Inggris namun beberapa waktu lalu telah pula diluncurkan versi bahasa Indonesia. ( abufaiz97, situs zionis berbahasa Indonesia berkedok Islam, Oase Qalbu), menceritakan banyak sepak terjang kaum zionis dalam gerakan Liberalisme dan Pluralisme (Jaringan Islam Liberal).
Henry Ford sebagai The International Jews ini mengarahkan sasarannya ke umat Islam dunia. Indonesia sebagai negeri kaum Muslimin terbesar dunia menjadi tujuan utama gerakan penghancur agama ini. Berkedok sebagai Islam Pluralis, Islam Liberalis, Islam Damai, Islam Kultural, dan kedok-kedok lainnya, mereka mencoba mendangkalkan agama Allah. Selain membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL), mereka juga melakukan promosi di dunia maya. Salah satunya, mereka membuat situs www. Libforall. Com yang awalnya (2003) hanya berbahasa Inggris namun beberapa waktu lalu telah pula diluncurkan versi bahasa Indonesia. Tujuannya apa lagi jika bukan untuk memperluas cakupan “jualannya”.
Associated Press menulis bahwa CEO LibFor All, Holland Taylor, tengah berupaya menghimpun tokoh-tokoh Liberalis dan Pluralis ber-KTP Islam di seluruh dunia untuk membentuk satu jaringan “Muslim Moderat”. Inilah kalimatnya: “Pendiri-bersama LibForAll C. Holland Taylor sedang menghubungkan para pemimpin Muslim moderat dalam sebuah jaringan mercusuar di dalam dunia Islam yang akan mempromosikan toleransi dan kebebasan berpikir dan beribadah. ”, dan “Kebebasan beribadah” di sini diartikan sebagai “Walau Anda Muslim, Anda bebas memilih mau sholat apa tidak. Itu terserah kepada Anda” Sebab, bukan rahasia umum lagi jika kelompok ini orang-orangnya sering tidak sholat.
(Sumber : Jejak Tokoh Islam dalam Kristenisasi, Hartono Ahmad Jaiz, Darul Falah – JKT, Cet.1 Juli 2004, hal.158-164 ) Tidak cukup hanya dengan Jaringan Islam Liberal untuk mengaduk-aduk aqidah umat Islam, Gerakan ghazwul Fikri ini pun diramaikan dengan banyak organisasi yang didanai oleh TAF (The Asia Foundation) menyebarkan racun ke seluruh penjuru negeri. Sebut saja, Paramadina dengan Fiqih Lintas Agama, Siti Musdah Mulia dengan “Kompilasi Hukum Islam”, dan jangan lupa JIL dengan “komunitas Utan Kayu” dengan segenap media baik cetak atau pun maya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment