Thursday, April 22, 2010
Menunggu Soulmate without "pacaran"
Ada yang lucu ketika aq dan teman-teman semasa SMA berdiskusi, topik kami ketika itu tidak jauh dari masalah cowok keren dan sekitarnya dan bagaimana kelak kita bertemu dengan pujaan hati kami untuk mencintainya, menikah dengannya sampai melahirkan anak-anak tercinta.
Ada Sus, yang sudah punya pacar hampir tiap malam minggu tidak pernah absen mengapelinya.
Ada Pho, yang juga sudah punya pacar yang begitu care dengan keseharian, sudah dekat sekali dengan ortunya, malah.
Ada Neng, yang belum punya pacar tapi dapat pengalaman tak terduga (surprise ditengah kedekatan seorang teman) nya.
Ada Tre, yang selalu ingin punya pacar yang ideal di matanya, keren, ganteng, kaya dan romantis
Ada juga aku sendiri yang tidak jauh berbeda dari mereka semua.
Uuuh, Anak muda! Hampir tidak ada yang melontarkan pendapat di antara kami bahwa kelak di antara kami ada yang menikah dengan orang yang tidak pernah kita duga, alias dia bukan siapa-siapa sebelumnya. Bukan teman kita, apalagi pacar kita. Orang yang hadir di kehidupan kita tanpa terduga tetapi dihadirkan untuk mengisi hari-hari cinta kita dalam rumah tangga kita.
Kala itu, hampir semua teman mengiyakan tanda persetujuannya untuk mengatakan "Tidak mungkin lah bisa cinta sama orang kalau kita belum mengenalnya. itu lah guna nya pacaran!"
Atau, "Pacaran habis nikah???? Please deh.....dijodohin gitu? aduuh masih ada emang? zaman Siti Nurbaya kaleee"
Huft!! komentar sejenis banyak lagi yang intinya hampir-hampir menafikkan kemungkinan itu akan terjadi kelak dalam kehidupan salah satu dari kami, contohnya dalam kehidupanku sendiri.
Aku sendiri beberapakali menjalani kehidupan percintaan ala remaja seumurku waktu itu, Acara jalan kaki pulang sekolah, nonton di bioskop, jalan-jalan, makan di warung bakso langganan, kirim kartu ucapan (ops! sorry belum ada hp/sms bro...), sering mencuri waktu untuk sekedar melongok ke jendela kelas dengan harapan bisa sekedar melihat bayangan si dia. Moment indah ala remaja SMA plus menjelang dewasa, romansa percintaan kami juga berbeda tapi sayang ketidaksiapan kami menjawab pertanyaan orangtuaku yang menginginkan hubungan ini diarahkan ke jenjang pernikahan membuat semua keindahan itu berakhir, kami putus, berpisah dan kesedihan hadir di hati aku dan dia.
Patah hati? ya....., tapi hal itu kemudian terobati ketika hadir sosok lainnya yang memberi warna lain, kejadian itu terulang lagi, sakit hati lagi? ya...., mencoba lagi kesempatan lain untuk yang kesekian kali. Dan satu persatu teman-teman dekatku mulai memasuki gerbang pernikahan termasuk diriku. Kami semua menikah dengan pilihan hati kami dan semuanya kami lewati setelah melewati langkah awal "penjajakan" sebelumnya. Pacaran? so pastinya.
Tetapi satu persatu kemudian, sekian tahun lama setelah menyebar undangan dan melahirkan anak pertama dan kedua, satu persatu pula kudengar berita perpecahan dan perpisahan dari mereka. Ada dari mereka bahkan babak belur karena korban ringan tangan dari suami pilihan hatinya. Duuuuh, aku sendiri tidak lebih bagus lagi. Pernikahanku berakhir setelah hampir satu dasawarsa kami coba untuk mempertahankannya.
Kucari jawaban atas semua kejadian yang menimpa ini, ku telaah lagi kesalahan-kesalahan yang pasti sudah kutimpakan dalam kehidupan karena aku yakin, Allah tidak akan menimpakan sesuatu kecuali karena kesalahan HambaNya sendiri, dan kesalahanku dari awal adalah selalu mendahulukan logika di atas segalanya. Jalan awal yang salah.
Alhamdulillah! Tuntunan hidayahNya pula yang mempertemukan aku dengan lelaki sederhana ini. Lelaki yang banyak mengajarkan hal-hal baru dalam kehidupanku, lelaki yang kuminta di penghujung malam di setiap tahajudku. Lelaki ini lah jawaban Allah dari pertanyaanku di padang Arafah (Saat umroh April 2007), Lelaki yang dihadiah olehNya atas kesungguhanku yang belum seberapa ini untuk meminta jodoh hanya kepadaNya semata. Lelaki yang hadir tanpa aku mengenalnya atau melewati masa pacaran sebelum pernikahan kami, bahkan jarak antara kami pun terbentang oleh samudera yang luas. Lelaki tulus yang mencintaiku apa adanya dan memberiku hari-hari indah setelah gerbang pernikahan kami gelar satu minggu setelah hari raya Iedul Fitri, dan cinta itu ternyata benar-benar hadir dan ada di hati kami. Cinta yang kuberikan karena Allah menganugerahkannya dalam rumah tangga kami.
Cinta dan sayang itu aku rasakan persis setelah pertama kali lelaki itu menyentuhkan tangannya yang penuh doa setelah upacara ijab kabul dan semua prosesinya. Perasaan damai itu datang, setelah kami berdua menunaikan shalat dua rakaat di malam pernikahan kami. Aku mencintainya ya Allah.... terima kasih telah KAU anugerahkan lelaki ini dalam kehidupanku. Jadikan kami selalu dalam LindunganMu, Anugerahi kami kasih sayang dan saling mengasihi selalu karenaMU semata, agar kami ikhlas menjalani semua sampai khusnul khotimah memisahkan kami, Amien.
Setelah semua ini, now I will definitely for sure saying : "Get your love and your loving soulmate after married!, it's amazing!" Pacaran setelah menikah? why not......
I do Love U, Abee
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment