Lahir dari Keluarga Besar, sebagai salah satu anak perempuan ( dua anak perempuan) dari ke delapan bersaudara membuat ku nyaris sempurna tumbuh seperti anak laki pada umumnya. Apalagi Ayahanda yang kupanggil sehari-hari dengan sebutan "Mamak" adalah seorang yang super keras dan disiplin ala tentara kepada anak-anaknya, Walhasil pendidikan keras dan ketat layaknya tinggal di asrama penuh ku jalani hampir di separuh umurku menjelang pubertas.
Wow, jangan mimpi bisa bertanya apa saja layaknya pengayoman kejiwaan bagi anak seusiaku ketika itu! hal itu sangat langka dan demikian berharga, karena kami (aku, pribadi) sangat jarang diperkenankan untuk bertanya kecuali harus selalu menjalankan dan mentaati apa yang digariskan dalam kebijaksanaan keluarga ketika itu.
Jangan berharap juga bisa menikmati sentuhan hangat tangan ayahanda karena beliau sudah sangat letih ketika sampai di rumah, apalagi bisa bersenda gurau layaknya anak dan ayah juga anggota keluarga yang lainnya. Hik! kami semua sangat takut dan segan pada beliau. Bayangkan! kami semua anak-anaknya bisa lari ke kamar masing-masing jika sudah mendengar ayah kami berdehem dari dalam kamarnya. Sayang, selain warisan intelektual dan disiplin juga ketaatan beragama, ayah kami telah mewariskan sifat yang banyak menurun ke dalam diri ku sendiri.. apalagi kalau bukan "sulit melupakan" meskipun telah terucap kata-kata maaf dari lisan.
Sosok ibu yang sempurna bisa terlihat pada profil ibunda tercinta, karena dia begitu sabar, begitu asih menyayangi kami dan melindungi kami terutama pengalamanku yang kerap mendapat perlakuan keras dari anggota keluarga yang lain (saudara lelaki). Pernah beberapa kali, "umi" panggilan kami untuk ibunda, harus berjibaku menahan tinju dari salah satu saudara lelaki ku yang begitu emosi dalam menyelesaikan masalah ketika itu. Aku? jangan harap bisa selamat dari ruwetnya situasi ini. Entah sudah berapa kali, sentakan dan pukulan keras menyentuh wajah dan tubuhku. Hmmmm??? tapi Alhamdulillah, Allah masih menyayangiku dengan menyelamatkan aku lewat tangan nenek dan kasih sayang umi tercinta.
Lebih dari 20 tahun kulewati waktu dengan keluarga besar ini. Baik dan buruk, indah atau pun pahit jelas tergambar dalam memori ini. Pemberontakanku terjadi tepat ketika masa-masa pubertas itu tiba. Aku tidak bisa lagi menahan diri, menghadapi sikap-sikap otoriter dalam keluarga besar ini. Apa yang kusaksikan sangat berlawanan dengan apa yang harus ku dengar, ini juga salah satu alasanku menolak untuk aktif di masjid dan pengajian, juga mengulurkan hijab yang merupakan kewajibanku sebagai muslimah. Tapi apa daya? aku hanya seorang perempuan. Aku juga mencoba untuk bertahan dengan sekedar latihan bela diri dan aktif dengan semua ekstra kurikuler di sekolah agar tidak hanyut dalam situasi mencengkram yang ku rasakan saat berada di rumah. Semua usaha ku lakukan, dari mulai banyak teman, banyak kegiatan, banyak acara di luar rumah, dan juga banyak pacar. he.. he... he.. yang satu ini, bikin kepala dan hati "mamak" dan "umi" berdenyut tidak karuan. Wow! anak pak haji pacaran?? adiknya pak ustadz jalan sama laki-laki non muhrim?
Hmmmm... kalau ingat itu semua,sungguh!! begitu berliku jalan hidupku. Pencarian jati diri memang harus kulewati sendiri, tanpa dampingan orangtua, anggota keluarga terdekat atau pun kerabat. Semua ku cari dari satu persatu langkah kaki ku, walau sempat ku jatuh tapi cepat harus ku bangkit kembali menata hidup.
Belajar hidup mandiri dengan gaji Rp 125 ribu per bulan, menghemat makan dan ongkos harian, mencoba menumpang pada kawan seperjalanan, juga tidur di atas jembatan kali Harmoni, adalah semua bagian dari cerita hidup yang bisa kuingat dan kubagi.
Semangat juangku untuk selalu menjadi yang terbaik dalam hidup ini meskipun saat itu masih dalam versi "jahiliah" mampu membuatku melewati semuanya. Aku mampu meraih mimpi-mimpi dan menjawab sindiran dan tantangan dari kakak lelakiku ketika itu, saat ku tolak perintahnya menghadiri pengajian rutin dan memilih menonton tayangan film "ACI" (Aku Cinta Indonesia) di TVRI, walau tak pelak tubuh dan hatiku porak poranda akibat pilihan ini.
Darah ayahanda memang benar-benar Allah turunkan kepadaku.
Di antara kekerasan hatiku memilih hidup berlawanan dengan apa yang orangtuaku inginkan agar selalu taat dalam jalanNya perlahan cair seiring usia dan warna dari perjalanan hidupku sendiri. Saat badai datang, ku coba untuk kembali ke pangkuan "umi" dan sekedar berkonsultasi pada para wanita yang telah menjadi istri dari saudara-saudara lelakiku. Apalagi kematian Ayahanda membuatku mengenal kembali pertalian darah di antara kami. Aku mencoba memaafkan atas semua yang telah terjadi, karena ini bukan hanya salah mereka. Semua ini sudah ditakdirkan menjadi jalan hidupku atas kehendakNya, dan aku bersyukur.. aku bisa menjadi seperti aku hari ini.
Aku yang telah kembali.. bukan karena paksaan dan hinaan juga caci maki. Tapi karena pencarian diri... walau dari perjalanan terjal yang tidak pernah terbayangkan oleh gadis kecil yang seringkali menyendiri, ketika tidak ada teman untuk berbagi. Bagaimanapun, aku ingin memberikan penghargaan dan terima kasih yang tidak terhingga untuk kedua orangtuaku tercinta, "Mamak" yang telah memberikan aku warisan kekerasan hati dan kemantapan dalam setiap pengambilan keputusan. Ibunda "umi" yang telah mewariskan segenap kelembutan untuk belajar memaafkan dan ketelatenan dalam menghadapi setiap keadaan. Dan dari mereka, kudapatkan warisan yang paling berharga, yaitu untuk selalu kembali memenuhi panggilanNya. Menjadi muslimah yang punya komitmen terhadap agamanya. InsyaAllah.
It's me, your kid! and I will be the best one whom you proud of.
I promised. InsyaAllah.
Sunday, May 2, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment